MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU AL HAMID
HEADLINE Lebih Baik Madrasah Madrasah Lebih Baik,GALAKSI PRAMUKA TAHUN 2017, SELAMAT HUT TNI TAHUN 2017, PEMBUATAN KALENDER PCC 2017

Sejarah Lembaga Pendidikan Islam Yayasan Mantab Al-Hamid Cilangkap Cipayung Jakarta Timur tidak bisa dipisahkan dari Pondok Pesantren Salafiyah ”Al Falah” yang berada di kabupaten  Kediri, tepatnya berada di Desa Ploso Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Sebuah Pondok Pesantren yang didirikan sejak ratusan tahun yang lalu (1827 M) oleh KH Ahmad Djazuli Usman. Beliau adalah seorang alumni dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, yang pada masa itu Pondok Pesantren Tebuireng masih di pimpin oleh Pendiri Organisasi keislaman terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU), yakni Khadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Kini perjuangan KH Ahmad Djazuli Usman diteruskan oleh keturunan Beliau. Kelima putera-puteri KH Ahmad Djazuli Usman adalah KH Zainuddin Djazuli, KH Nurul Huda Djazuli, KH Khamim Djazuli, KH Munif Djazuli dan Hj Lailatul Badriyyah seluruhnya tetap mengayomi para santri dengan memegang tugas dan tanggung jawab masing-masing demi keberlangsungan eksistensi Pesantren. Peran serta dan kontribusi yang paling rendah adalah dengan mengisi berbagai pengajian kitab-kitab salaf untuk diajarkan kepada para santri di jam-jam tertentu setiap harimulai dari setelah sholat shubuh berjamaah, hingga tengah malam selepas sholat isya.

Diantara kelima putera-puteri KH Ahmad Djazuli Usman, yaitu beliau KH Khamim Djazuli Usman yang populer disapa Gus Miek, merupakan puteranya yang memiliki kepribadian paling unik, kalau boleh dibilang nyentrik, dimana beliau memiliki kebiasaan berdakwah bukan ditempat yang umum, seperti masjid, majlis-majlis taklim, surau dan madrasah-madrasah, akan tetapi beliau biasa terjun langsung ditempat kemaksiatan dan kemungkaran yang terjadi. Bagi beliau dunia malam adalah sorban untuk dakwahnya, prostitusi beserta wanita-wanita malam adalah sajadah untuk sujudnya akan keagungan-Nya, minuman dan perjudian adalah tasbih dzikirnya, sehingga tidak sedikit pihak yang menilai negatif akan sepak terjang Gus Miek.

KH. Chamim Dzajuli / Gus MiekHal yang paling berbeda dari Gus Miek dengan yang lainnya adalah dimanapun Gus Miek berada, apakah di antara tukang becak, para pejabat, penjudi, ulama dan lain sebagainya, Gus Miek selalu menjadi yang terdepan atau terhebat, sehingga ada perkataan dari ”santri-santri” Gus Miek, jika ada di sekitar Pejabat, Gus Miek paling hebat dalam menyusun strategi ataupun keilmuan tentang dunia politik.Jika di antara penjudi, Gus Miek selalu menang, begitu juga diantara pemabuk. Dan paling kentara adalah jika Gus Miek berada disekitar kumpulan para Ulama atau Kiai, seakan-akan tidak ada  ulama atau kiai lain selain Gus Miek. Inilah sebagian kelebihan-kelibihan yang ada pada diri Gus Miek sejak beliau dilahirkan.

Salah satu kegiatan yang dibidangi Gus Miek adalah sebuah perkumpulan pengajian yang bernama ”Sema’an Al Qur’an Jantiko Mantab” sebuah kegiatan yang memperdengarkan sekaligus menyimak ayat demi ayat yang dikumandangkan oleh para penghafal AlQur’an (hafidz/hafidzah) yang dalam pelaksanaannya dihadiri hingga ribuan jamaah. Sebuah kegiatan rutin yang pada mulanya hanya berjalan di sekitar kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, hingga pada saat ini meluas sampai ke Jakarta, bahkan pernah sampai ke Istana Negara Republik Indonesia dan Keraton Jogjakarta.

Kenyentrikan dan keunikan Gus Miek membawa pengaruh yang begitu besar terhadap ketertarikan seorang pengusaha di Jakarta, salah satunya yang bernama H. Hamid Djiman. Sejalan dengan ketenaran Gus Miek dikalangan para pejabat dan pengusaha di Jakarta, sehingga pada tahun 1992 terjadilah pertemuan antara Gus Miek dan H. Hamid Djiman yang kemudian berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya yang membuat kekaguman dan rasa hormat H. Hamid Djiman kepada Gus Miek tumbuh semakin besar.

Sebagai seorang pengusaha, tentu H. Hamid Djiman mempunyai keinginan untuk dapat sesering mungkin bisa bertatap muka dengan Gus Miek, dengan menyerahkan kendaraan, alat komunikasi dan lain sebagainya untuk meningkatkan intensitas pertemuan, walaupun demikian H. Hamid Djiman tetap tidak mampu untuk membuat pertemuan ataupun mengatur tatap muka sesuai dengan yang diharapkan, bahkan apa yang diberikannya kepada Gus Miek dikembalikan utuh oleh sang supir Gus Miek, hal inilah yang terus merangsang rasa kagum H. Hamid Djiman kepada Gus Miek.

Kekaguman dan rasa hormat yang timbul dari lubuk hati H. Hamid Djiman kepada Gus Miek kemudian dijadikan dasar utama untuk merespon keinginan Gus Miek mendirikan Pesantren Akhirat di Jakarta, dengan pertimbangan bahwa H. Hamid adalah seorang pengusaha yang siap secara finansial guna merealisasikan keinginan Gus Miek, maka kemudian direncanakanlah pembangunan Pondok Pesantren di tanah milik H. Hamid Djiman yang dikemudian hari menjadi lokasi sentral kegiatan Pondok Pesantren Al Hamid.

Disuatu acara resepsi pernikahan seorang warga di kelurahan Cilangkap yang mengundang penceramah kondang yang terkenal dengan julukan Dai Sejuta Umat yaitu KH Zainuddin MZ yang kemudian disediakan tempat untuk menyantap hidangan makan malam di kediaman H. Hamid Djiman, dan betapa terkejutnya sang dai begitu melihat foto Gus Miek terpajang begitu besar di ruang tamu H. Hamid Djiman, yang kemudian menjadi tali pengikat hubungan pertemanan antara KH Zainuddin MZ dengan H. Hamid Djiman, sehingga ketika niatan dari Gus Miek untuk mendirikan sebuah pesantren akhirat diamini secara finansial oleh H. Hamid Djiman, yang kemudian juga diamini oleh KH Zainuddin MZ secara keilmuan dan diharapkan menjadi tokoh atau figur untuk pesantren yang akan didirikan.

Pada tahun 1995 dilaksanakanlah prosesi peletakan batu pertama pembangunan pondok pesantren yang awalnya disebut dengan Pondok Pesantren Terpadu Cilangkap, di mana prosesi dilaksanakan oleh yang terhormat Bapak Try Sutrisno yang pada kala itu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, yang juga dihadiri para pejabat dari mulai Gubernur DKI Jakarta, para Menteri dan Pejabat dari lingkungan sipil dan Militer.

Apa yang direncanakan manusia memang belum menjadi sebuah realisasi dari kenyataan, karena memang setiap kebaikan pasti dibarengi tantangan, begitupun juga dengan pembangunan Pondok Pesantren Terpadu Cilangkap, pada tahun 1997 bangsa ini terjadi suksesi kepemimpinan negara (presiden) yang dilanjutkan dengan terjadinya krisis moneter yang menerpa sendi-sendi perekonomian bangsa Indonesia, sehingga berdampak pada tindak lanjut pembangunan gedung Pondok Pesantren Al Hamid dan pada akhirnya pembangunan diberhentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan

Fajar harapanpun akhirnya datang juga pada tahun 2001 dimana proses pembangunan dapat dilanjutkan kembali sehingga rampung satu gedung utama pada tahun 2002, seiring dengan selesainya pembangunan gedung utama Pondok Pesantren Al Hamid, dan seiring dengan terjadinya perubahan kepengurusan Yayasan, kemudian H. Hamid Djiman menunjuk putera pertamanya untuk memimpim perjuangan mendirikan dan menjalankan roda kegiatan pondok pesantren yang telah berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al Hamid, maka dimulailah proses kegiatan belajar mengajar dilingkungan Pesantren dari mulai membuka pendaftaran, menerima para calon guru dan lain sebagainya.

Pendidikan Islam Yayasan Mantab Al-Hamid Cilangkap dari pra dan awal berdiri sampai penelitian ini dilakukan tahun 2008. Setidaknya Pondok Pesantren Al Hamid sekarang memiliki empat lembaga pendidikan formal, yaitu Taman Kanak-kanak Islam Al Hamid, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu/MIT Al Hamid, Madrasah Tsanawiyah/MTs Al Hamid, Madrasah Aliyah/MA Al Hamid. Selain empat pendidikan formal tersebut, Al Hamid juga memiliki lembaga non formal, yaitu Madrasah Diniyah putra/putri, Asrama Pondok Pesantren Putra/Putri Al Hamid dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Al Hamid.

Hubungi Kami

MIT AL HAMID
Jalan Raya Cilangkap Baru No. 01

+6221